Penyebab
Progesterone menyebabkan otot polos berelaksasi yang mengakibatkan menurunnya motilitas pada usus dan menyebabkan wanita mengalami konstipasi dalam kehamilan. Motilitas yang tertunda, seiring dengan meningkatnya jumlah aldosteron dan angiotensin, mengarah pada meningkatnya penyerapan air yang mengakibatkan feses keras. Perubahan dalam diet dan olahraga, kurangnya cairan secara adekuat, dan penggunaan suplemen zat besi juga berperan terhadap munculnya masalah ini. Selanjutnya, peningkatan ukuran uterus pada uterus yang hamil mempersulit aktivitas mengejan sambil membungkuk, karenanya menurukan dorongan untuk mengeluarkan feses.
Pengumpulan Data
Subjektif
1. Penjelasan pola defekasi yang biasa
2. Penjelasan pola saat ini
3. Identifikasi penggunaan laksatif sebelumnya dan saat ini
4. Catatan diet 24 jam, termasuk semua cairan dikonsumsi
5. Identifikasi tindakan menyembuhkan diri sendiri yang dapat memperbaiki atau memperburuk kondisi
6. Indentifikasi karakteristik nyeri abdomen
Objektif 
Palpasi abdomen untuk mengidentifikasi massa, pembengkakan, nyeri tekan.
Diagnosis banding
1. Perubahan defekasi normal pada kehamilan yang disebabkan diet atau kekurangan cairan
2. Konstipasi yang berhubungan dengan patologi gastrointestinal
Intervensi 
Penjelasan mengenai perubahan normal dalam kehamilan yang mempredisposisikan ibu pada konstipasi harus diberikan. Cara pencegahan, meliputi diet termasuk cairan (paling sedikit 6-8 gelas sehari), meningkatkan diet serat, meningkatkan konsumsi buah segar dan sayuran, identifikasi makanan tertentu yang menstimulasi aktivitas defekasi (prem, jus prem, dan minuman panas) harus digali. Jika dibutuhkan, penggunaan laksatif serat mungkin direkomendasikan. Dosis bergantung pada produknya, intruksi pada kemasan harus diikuti. Docusate sodium (100 mg BID) untuk penggunaan jangka pendek mungkin tepat. Minyak mineral dikontraindikasikan karena mencegahan penyerapan vitamin yang dapat larut dalam lemak. Diskusi mengenai pencegahan ketergantungan terhadap laksatif harus dimasukkan dalam konseling. Diskusi mengenai pencegahan ketergantungan terhadap laksatif harus dimasukkan dalam konseling. Diskusi mengenai rutinitas harian dapat mengidentifikasi perilaku seperti mengabaikan keinginan defekasi, yang akan menghambat fungsi normal defekasi.
Masase abdomen yang kuat searah jarum jam dapat merangsang peristaltic. Pemberian akupresur sebentar, sekitar 10 detik pada titik tengah antara pubis dan umbilicus selama kira-kira 10 menit, dapat juga merangsang aktivitas defekasi.
Indikasi Untuk Rujukan
Konstipasi yang tidak membaik dengan perubahan diet dan laksatif membutuhkan evaluasi medis lebih lanjut. Perubahan kebiasaan defekasi diikuti dengan nyeri abdomen hebat atu perdarahan rectal yang membutuhkan konsultasi atau rujukan untuk evaluasi si medis.

Sumber :Walsh, Linda V. 2008. Buku Ajar Kebidanan Komunitas. Jakarta : EGC.

Related Post :